Tampilkan postingan dengan label muslimah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label muslimah. Tampilkan semua postingan

Selasa, 13 Februari 2018

VALENTINE DAY’S PEMICU TURUNNYA ADZAB ALLAH SWT


 
VALENTINE DAY’S PEMICU TURUNNYA ADZAB ALLAH SWT

Valentine Day’s tidak pernah ada dalam kalender Islam, karena memang tidak pernah ada dan bukan bagian dari tradisi dalam Islam. Oleh karena itu, perayaan Valentine sama halnya dengan perayaan Natal. Sudah terlalu banyak yang penjelasan mengenahi hukum tersebut.
Namun, ada sisi lain yang perlu diketahui bagi orang Islam terkait perayaan Valentine. Valentine merupakan hari di mana para remaja mengungkapkan rasa kasih terhadap paasangan terlarangnya. Kebanyakan dari mereka mengungkapkannya dengan memberikan sebatang cokelat beserta sepucuk bunga. Bahkan, tidak jarang dari mereka menyelipkan sehelai kondom di dalamnya. Merupakan sesuatu yang pasti, sebuah kondom digunakan para remaja pada hari tersebut untuk melakukan perbuatan zina. Perbuatan yang keharamannya sudah menjadi kesepakatan para ulama dan orang yang tidak mengetahuinya tidak ditoleransi karena merupakan perkara yang ma’lûm min ad-Dîn bidh Dharûrah.

Di samping perbuatan zina menjadi petaka bagi pelakunya, perbuatan tersebut juga berdampak pada orang sekitar dan tempat di mana zina itu dilakukan. Rasulullah saw bersabda:

 إِذَا ظَهَرَ الزِّنَا وَالرِّبَا فِي قَرْيَةٍ، فَقَدْ أَحَلُّوا بِأَنْفُسِهِمْ عَذَابَ اللهِ

“Apabila zina dan riba telah nampak di suatu negeri, maka sungguh penduduk negeri itu telah menghalalkan azab Allah bagi diri-diri mereka.” (HR. Al-Hakim dari Ibnu ‘Abbas)
Dalam hadits tersebut disebutkan bahwa ketika zina sudah merajalela di suatu daerah maka penduduk daerah tersebut telah mempersilahkan datangnya azab Allah swt kepada meraka.
Mengapa demikian, padahal tidak semua penduduk di daerah tersebut melakukannya? Allah swt telah menjawab petanyaan ini dalam firmannya:

وَاتَّقُوا فِتْنَةً لَا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً ۖوَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

“Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang dzalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya.” (QS. Al-Anfal ayat 25)
Ibnu Katsir dalam Tafsîr-nya menukil dari hadits Syuraih bin Haiwah, menyebutkan bahwa Allah swt memberikan peringatan kepada hamba-hambanya yang beriman tentang suatu malapetaka yang tidak hanya diturunkan kepada pelaku maksiat, melainkan menimpa kepada setiap orang yang berada di sekitarnya. Hal itu terjadi jika orang sekitarnya membiarkan kemungkaran tersebut terjadi.

Nash al-Qur’an dan Hadits di atas memberikan kesimpulan bahwa kemungkaran yang merajalela tanpa ada yang mencegahnya akan memicu datangnya azab dari Allah swt yang akan menimpa suatu daerah di mana kemungkaran itu dilakukan. Oleh karena itu, merupakan keharusan setiap Mukmin agar menjaga remaja kita agar tidak terjerumus pada kemungkaran khususnya pada tanggal 14 Februari yang bertepatan dengan perayaan Valentine Day’s. 

Ma’sum Ahmadi/Tauiyah

Sabtu, 21 Januari 2017

RAHASIA DI BALIK SURAT AL MULK

RAHASIA DI BALIK SURAT AL MULK

RAHASIA DI BALIK SURAT AL MULK
Surat Al-Mulk atau sering disebut dengan surat Tabaarak, diturunkan setelah surat At-Thur. Demikian pendapat ulama’ jumhur. Bagi kalangan santri, mungkin sudah akrab dengan surat ini, khususnya di Sidogiri yang kerap kali dibaca ketika kegiatan Istighosah atau Munjiyat. Surat ini diwahyukan di Mekkah, yang kejadiannya berkisar di sekitar masalah penerimaan ajaran islam dan penjelasan theologinya.  
Surat Al-Mulk berisi 1313 huruf, mengandung 335 kalimat, sedang ayatnya adalah 30 ayat. Dalam riwayat Ibnu Mardawaih dari Rafi’ bin Khadij Al-Anshari r.a, Nabi s.a.w bersabda : 
"Diturunkan padaku sebuah surat yang komplit, yaitu : Tabaarak, berisi tiga puluh ayat, dan itu termasuk surat pendinding (siksa) di alam kubur.”
Dan mengenai Surat ini, tentu ada waktu-waktu yang baik untuk kita baca di dalam keseharian kita. Berikut kami hadirkan sekelumit dalil yang menunjukkan waktu terbaik untuk membaca surat ini.
Waktu membaca surat al-Mulk
Ummul mu’minin Aisyah binti abu bakar berkata : “Bahwa setiap malam Nabi s.a.w punya kebiasaan membaca sura Alif laam mim (As-Sajdah) dan Surat Tabaarak serta beliau tidak meninggalkan bacaan dua surat ini baik dalam bepergian maupun sedang berada di dalam rumah.”
Dan dari redaksi lain dikatakan dari sahabat Abdullah bin Mas’ud r.a : “Nabi s.a.w biasa membaca surat Al-Jumuah, sedang pula pada salat subuh di jum’at pagi. Beliau membabiasa membaca surat As-Sajadah dan Surat Tabaarak.”
Dari kedua sumber diatas, diketahui bahwa Surat Al- Mulk hendaknya dibaca pada setiap malam dan siang hari; baik di saat bepergian maupun sedang berada di rumah. Kalu begitu, alangkah baiknya andaikata ia dibaca secara rutin hingga jasadnya kelak di alam kubur.
Namun, dibalik semua itu, apakah kita tahu akan rahasia di balik surat al-Mulk tersebut ? Berikut kami paparkan tentang keutamaan surat tersebut.
Keutamaan di Dunia
Ditinjau dari segi “khasiat”, maka diantara ayat surat al-Mulk mengandung kegunaan tertentu, sebagaimana dikutip dari perkataan sahabat Ibnu Abbas r.a , Rasulullah bersabda “ Barang siapa yang sakit gigi, letakkan jarinya di atas gigi itu, dan bacakan ayat ini (Tabaarak:23) yang artinya : “Dialah yang menciptakan kalian dan menjadikan pendengaran, dan hati bagi kalian, namun amat sedikit dari kalian yang dusi bersyukur.”
Keutamaan di Alam Barzakh
Mengenai surat al-Mulk, Nabi bersabda :
تبارك هى المانعة من عذاب القبر "   "
 “Surat Tabaraak, dialah pendinding dari siksa kubur”
Menurut pengarang kitab Tuhfatul-Ahuudzy : Maksud dari pendinding disini ialah penghalang dari siksa kubur atau dosa-dosa yang mengharuskan bagi pelakunya mendapat adzab kubur. Hal ini senada dengan riwayat Ath-Thabrani yang berbunyi : “Datang malaikat kubur pada seseorang di dalam kuburnya, Lalu bacaan surat Tabaarak yang dibacanya semasa hidup berkata: Anda jangan khawatir ! Selagi kami ada untuk menghadapi mereka, tidak ada jalan bagi mereka untuk menyiksa anda.”
Keutamaan di hari Akhir
Surat Tabaarak ternyata juga memberikan syafaat kepada siapa yang membacanya semasa hidup di dunia. Dalam suatu riwayat, Nabi bersabda : “Seseorang memasuki surga dengan bantuan satu surat Al-Qur’an yang hanya berisi tiga puluh ayat saja, itulah yang menyelamatkannya dari siksa kubur, yaitu surat Tabaarak.”
Dari beberapa keutamaan diatas, kita simpulkan bahwa surat Al-Mulk atau Tabaarak memiliki peranan yang penting bagi kita, baik di dunia hingga di akhirat kelak. Tentu, kita sebagai umat islam berharap terlindung dari siksa kubur dan memasuki surga dengan jalan yang cukup mudah yakni cukup dengan mendawamkan surat ini.
             



Kamis, 12 Januari 2017

Cara Mengajarkan Anak Menghafal Al Qur'an Sejak Dini


Cara Mengajarkan Anak Menghafal Al Qur'an Sejak Dini
Memiliki Anak yang hafal al Quran adalah dambaan setiap orang tua. Karena, Ia akan manjadi Syafi’ (orang yang memberi syafaat) bagi orang tuanya kelak di hari kiamat. Sebagaimana yang sudah dijelaskan Rasulullah SAW.

لحامل القرآن إذا عمل به فأحل حلاله وحرم حرامه يشفع فى عشرة من أهل بيته يوم القيامة كلهم قد وجبت لهم النار 

جامع الأحاديث - (ج 17 / ص 347)
Artinya: “Apabila seorang penghafal al Quran mengamalkannya (al Quran), menghalalkan barang halal dan mengharamkan barang haram, maka Kelak di hari kiamat Ia dapat memberi syafaat kepada 10 anggota keluarganya yang telah divonis masuk neraka”.
Dari hadits ini, kita akan termotivasi untuk mendidik dan mengarahkan Anak-anak kita untuk menghafal al Quran. Atau mungkin hati kita yang tergugah untuk menghafalkannya sendiri. Selagi kita bisa, ngapain nunggu anak-anak kita.
Pada dasarnya, tidak ada kata terlambat untuk menghafal al Qur’an. Sebab, al Quran tidak mengenal umur. Ia akan tetap bisa dibaca dan di hafal oleh setiap orang. Entah itu, Kecil, muda dan dewasa. selain itu, al Quran juga bukan hanya untuk orang-orang cerdas dan orang-orang berdarah biru (putra-putra Kiai). Asalkan Ia memiliki kemauan , tekad dan keistiqomahan yang mapan, ia akan mampu menghafal al qura bil Ghaib (tanpa melihat). Entah itu anaknya petani, pedagang, ustadz, bahkan buruh sekalipun.
Kami yakin, di sini, pembaca adalah orang-orang yang ingin sekali memiliki anak yang hebat, anak yang bisa membaca al quran tanpa melihat (Hafal) sejak dini. Namun, mungkin masih bingung tentang metode dan cara yang paling efektif agar anak kita mampu menghafal al quran dengan sempurna.
Di sini, kami akan ulas trik mudah mendidik anak untuk menghafal al Quran sejak dini sesuai dengan pengalaman kami dan teman kami. Memang, Cara ini sangat sederhana, dan mungkin terbilang biasa. Namun, jika Anda benar-benar menerapkannya, Insya Allah keinginan Anda untuk memiliki anak yang hafal al Quran akan tercapai. Kuncinya cuma 3, yaitu, sabar, semangat dan istiqamah.
Berikut ini adalah cara mendidik anak untuk mengahafa al Quran sejak dini yang kami maksud:


A. Untuk Bayi yang berumur kisaran 0-2 tahun

           1-Bacakan Al Qur'an dari surat Al fatihah
           2-Tiap hari 4 kali waktu (pagi, siang, sore, malam)
           3-Tiap 1 waktu satu surat diulang 3x
           4-Setelah hari ke-5 ganti surat An Naas dengan metode yang sama
           5-Tiap 1 waktu surat yg lain-lain diulang 1x2
B. Untuk Anak umur Di atas 2 tahun
           1-Metode sama dengan teknik pengajaran bayi. Jika kemampuan mengucapkan kurang, maka tambah waktu menghafalnya, misal dari 5 hari menjadi 7 hari
           2-Sering dengarkan murattal
3. Untuk Anak umur Di atas 4 tahun
           1-Mulai atur konsentrasi dan waktu untuk menghafal serius.
           2-Ajari muraja'ah (mengulang) sendiri.
           3-Ajari menghafal sendiri.
           4-Sering-sering memotivasi agar semangatnya terjaga.
           5-Waktu menghafal minimal 3-4x perhari.
Demikianlah Metode dan cara mendidik anak agar hafal al quran yang bisa kami bagikan disini. Semoga kita di karunia anak-anak yang hebat, sholeh, hafal al quran yang bisa kita jadikan sebagai tambahan amal untuk menempuh jalan menuju Ilahi. Amin !

Selasa, 10 Januari 2017

BAWALAH ANAK ANDA MENGELILINGI DUNIA

BAWALAH ANAK ANDA MENGELILINGI DUNIA

BAWALAH ANAK ANDA MENGELILINGI DUNIA
Sangatlah logis jika Allah mengawali percakapan melalui wahyuNya yang diturunkan kepada nabi muhammad dengan perintah “membaca”. Sangatlah banyak hal faidah membaca baik yang transparan atau yang bisa dirasakan setelah lama kita menggeluti pekerjaan mulya ini.
Salah satu faidahnya adalah dengan membaca kita bisa mengelilingi dunia. Bisa dikatakan buku - sebuah alat yang mengantarkan kita pada pekerjaan membaca ini- adalah alat klasik untuk seorang bisa menambah wawasan keilmuan, sebab “buku sama kedudukannya dengan dunia”, begitulah apa yang pernah dikatakan oleh Friendich Von Logau (1604-1655): die welt ein buchnya. Berperang dengan buku, memompa diri dengan buku dan menambah pengetahuan dengan buku. Perkataan ini kemudian dikuatkan kembali oleh pengakuan seorang penulis lokal kita agus........., ketika dia dahulu diperintah gurunya untuk menuliskan cerita perjalan liburannya, yang mana ia sangatlah tidak mungkin berlibur seperti teman-teman sekolahnya, sebab ia harus menggantikan kedudukan ayahnya untuk menjadi penjaga toko disetiap waktunya bisa menikmati liburan sekolah. Inisiatif  muncul darinya, setiap ia berlibur ia tetap menjaga toko dan setiap hari pula ia membaca buku-buku. Hingga ia bisa bercerita bagaimana elok pulau-pulau jepang, bagaimana orang-orang jerman dan bagaimana ia mengunjungi beberapa negara yang ia kunjungi dari beberapa tulisan pada buku yang telah ia hatamkan.
BAWALAH ANAK ANDA MENGELILINGI DUNIA

Membaca adalah salah satu cara untuk menghindari diri dari penyakit yang akan menyerang sarang otak seperti yang dikatakan seorang peneliti dari henry ford health system, Dr. C.Edward Coffey. Dengan membaca ia akan mempunyai komitmen tinggi pada masa depan yang baik (vision priciple), pandangan hidup (world view) serta memiliki track record atau catatan perjalan sesuai sesuai dengan harapan Allah dan rosulnya.
Malahirkan komitmen diri tidak akan hadir ketika seoseorang tidak mempunyai keluasan pikiran. Dan hal ini tidak bisa hadir kecuali dengan menggeluti dunia baca -Baik membaca dalam lintas tulisan, ataupun dunia yang ia lihat dan ia dengar-.
Lantas wajibkah seorang wanita membaca?
Perintah membaca dan untuk selalu memompa keluasan intlektual adalah perintah yang terarah kepada setiap individu manusia. Tidak memandang kaya, miskin, bersekolah, ataupun tidak. Dan yang paling inti adalah ia pria ataupun wanita.
Dan rosulullah pernah bersabda “mencari ilmu adalah kewajiban bagi kaum laki-laki dan perempuan” dan dalam hadits masyhur yang sering kita denganr nabi juga bersabda “carilah ilmu walaupun kenegri cina”. Mencari ilmu dan bahkan hingga kenegri cina adalah hal yang sangat mungkin bagi seorang wanita seperti apa yang pernah diakui oleh agus.......... membaca adalah menciptakan kedamaian bagi keluarga dan keamanan bagi wanita itu sendiri. Apalagi di zamanpost modern, ketika gadget sudah menyediakn berbagai kebutuhan dan alat komunikasi yang dulu hanya bisa ditempu dalam waktu berminggu-minggu saat ini sudah bisa ditempuh sejurus nafasnya berhembus.

Membaca bagi wanita bukan hanya sebuah fardhu kifayah atau sosial reponsibility baginya, namun  membaca adalah kewajiban bagi setiap individu wanita itu sendiri, yang mana ia mempunyai kewajiban besar mendidik dan membina keluarga.
Selain itu fungsi wanita di mata dunia sangatlah besar. Memang benar ketika seorang penulis lokal kita menulis disalah satu akun sosialnya, bahwa “Wanita berasal dari tulang rusuk, maka tak layak bagnya kemudian dijadikan sebagai tulang punggung (bagi keluarganya sendiri.pen)”.
Namun, kedudukan wanita tetap sangatlah besar, karena ia adalah sebuah ladang yang kemudian dari nyalah tumbuh dan berkembang beberapa tumbuhan dengan hasil bermacam-macam. Bahkan peran seorang wanita sebelum ia melahirkan anaknya sudah sangatlah berperan seperti apa yang dikatakn oleh banyak pakar kedokteran barat mengatakan “anak seringkali mengikuti kebiasaan ibu semenjak ia ada dalam kandungan”. Betapa besar tanggung jawab seorang wanita, berpotensi besarlah anak yang ia didik.
Kemudian Syekh Abu sulaiman ad-Daroni berkata mengenai sosok wanita yang diharapkan agama yang kemudian darinyalah diharapkan generasi yang besar pula. Ia berkata ”istri solehah  tidaklah termasuk (cinta) dunia, sebab dia dapat membuatmu konsentrasi untuk akhirat, dengan mengatur rumah tangga”.
Ada dua 2 kewajiban dan dua hal yang telah wanita dapat secara tidak langsung disaat ia menekuni dunia baca. Pertama, wanita itu telah memenuhi kewajiban dirinya atas perintah agama untuk mencari ilmu, terutama yang sangat dibutuhkan baginya. Yang kedua berarti ia telah benar-banar mempunyai niatan besar dan siap dalam setiap detik nafasnya untuk menjadi sosok istri solehah dan seorang ibu panutan bagi anak-anaknya. Wanita kutu buku inilah yang kemudian bisa dibahasakan “perpustakaan bagi anak sendiri”, Baik ketika anak mengalami masalah dalam proses belajarnya disekolah atau proses menjalani kehidupan dengan menghadirkan beberapa pemikiran darinya dari hasil apa yang telah lama ia baca dan cerita-cerita yang bisa dijadikan ibroh  atau pelajaran bagi sianak.
Seorang penyair arab menggubah syair: 
# اعددت شعبا طيب العراق الام مدرسة  اذا اعددتها
“Ibu adalah tempat belajar (madrasah pertama bagi anak) “ jika kau persiapkannya (Dengan baik)# berarti kau persiapakan generasi yang baik pekertinya”.
So, bagi para wanita mari membaca dan membaca dengan niatan menghilangkan kewajiban bagi dirinya dan dengan niatan besar bahwa “aku” wanita tersebut bercita-cita menjadikan sosok pemuda sukses dimasa mendatang. Dan ingatlah perkataan William James “penemuan terbesar dari generasi saya adalah bahwa seseorang bisa mengubah kehidupannya dengan mengubah pikirannya”. Marilah rubah kebiasaan mengoperasikan sosmed dan lainnya kepada perubuahn merubah mindset dengan selalu membaca untuk sebuah harapan baik bagi generasi penerus kita. jadilah wanita kutu buku. Dan selamat mengelilingi dunia dan membawa anak-anak anda untuk mengelilingi dunia pada buku-buku yang pernah anda baca. Jadikan guru mereka adalah buku bukan hanya berguru pada layar televisi yang sering kali merusak kebiasaan dan mindset manusia terutama anak kita yang seharusnya kitalah yang mendidiknya.


Kamis, 08 Desember 2016

Membutakan Cinta atau Dibutakan Cinta?!


فَوَاللهِ مَا أَدْرِيْ أَزِيْدَتْ مَلَاحَةً وَحَسَنًا عَلَى النِّسْوَانِ أَمْ لَيْسَ لِيْ عَقْلٌ
Demi Allah! Entah, apakah karena dia (orang yang dicintai) semakin cantik menawan atau memang aku yang sudah tergila-gila?
Ungkapan semacam ini sering kali kita dengar dari para pencinta. Dalam konteks ini, baik yang tua maupun yang muda tidak ada sekat pembeda. Semuanya sama. Praktik yang halal dan yang haram pun sudah tidak jauh beda ruang asmaranya. Karenanya, perlu di sini disuguhkan sekat dan batas dalam mengekspresikan dan melampiaskan rasa yang tengah menganga di dada.
Secara umum, motivator adanya cinta yang bersemi di dada itu hanya karena rasa yang tengah bergelora yang menyuburkan keinginan, ketertarikan, dan kecocokan yang tumbuh bersama sesuatu yang dikagumi. Semakin kuat kekaguman seseorang akan sesuatu maka semakin kuat pula rasa cinta yang akan membara.[1] Begitupun sebaliknya.
Tentu, sesuatu yang mengagumkan itu relatif. Semua orang memilik perspektif masing-masing dalam menilai hal ini. Terkhusus masalah wanita, Rasulullah pernah menuturkan, “Perempuan itu dinikahi (oleh seorang pria) karena empat alasan; karena kecantikannya, kekayaannya, garis keturunannya, dan karena agamanya.”.

Mayoritas dari kita, raup wajah seakan menjadi harga prioritas dalam menjalin hubungan dengan lawan jenis. Jika raup wajah bermasalah maka ikatan yang hendak kita jalin dalam lingkaran asmara, pinang pun harus kandas. Mereka berdalih, nadhar (melihat calon tunangan) dalam meminang wanita saat meminang itu dimaksudkan sebagai barometer, apakah hubungan tersebut akan diteruskan atau tidak. Mereka menambahkan, cinta itu lahir dari mata. Sedangkan sesuatu yang dilihat pertama kali oleh mata adalah raup wajah. Makanya, hal pertama yang harus dinilai adalah raup wajah. Begitulah cinta membutakan para pencinta.
Perlu diingat, cinta bersemi tidak hanya semata karena kecantikan. Bahkan, cinta yang bermula karena hanya kecantikan banyak kandas di tengah jalan. Alasannya sederhana, karena usia kecantikan tidak selama umur jagung. Di samping itu, nadhar sebelum meminang itu bukan tolok ukur, bahkan perannya hanya sebatas pemoles rasa dalam bingkai asmara. Karenanya, tanpa pemoles, cinta masih bisa bertahan dan bahkan berkembang.
Terkait dengan statemen, berawal dari pandangan mata lalu cinta akan bersemi tidak melulu benar. Sebab, yang memiliki otoritas dalam menentukan sesuatu dengan bijak adalah hati. Mata hanya mentransfer ke hati untuk selanjutnya ia tunduk pasrah dengan keputusan hati. Ini tidak boleh dibalik.
Sebagian mereka masih mengela, Rasulullah bersabda, “Wanita Shalihah adalah orang yang ketika dilihat menyejukkan hati.”. Tentu, kata mereka, sesuatu yang dipandang pertama kali adalah keindahan wajah. Dengan demikian, masih kata mereka, raup wajah merupakah tolok ukur.
Pernyataan seperti ini juga tidak mutlak benar. Sesuatu yang menyejukkan hati itu beraneka ragam dan tergantung orang yang mau menilai. Jika kita memahaminya dengan birahi mungkin kecantikan yang paling menonjol. Akan tetapi, jika barometernya adalah hati maka suatu yang berorientasi pada ukhrawi yang akan tampil di grand pertama. Oleh karena itu, untuk mencapai esensi cinta, hendaknya jangan menggunakan pola pikir terbalik.
Di samping itu, menjalin hubungan keluarga itu tidak hanya berbatas pada kepentingan birahi dan dunia. Ada kepentingan lain yang urgensitasnya harus lebih diprioritaskan oleh kita, akhirat. Bahkan, dengan mengutamakan kepentingan ini kita bisa meraih kepentingan birahi dan dunia.
Oleh karena itu, hal-hal yang korelasinya itu dengan akhirat harus dijadikan harga mati yang tidak mengenal negosiasi. Gadis rupawan tapi asusila maka cari yang lain. Dan, jika kita dihadapkan dengan pilihan antara gadis rupawan tapi asusila dan gadis beretika tapi tidak rupawan maka kita harus memantapkan diri untuk memilih yang kedua.
Tentu, masalah semacam ini juga berlaku bagi para wanita dalam memilih pasangannya. Mereka juga harus memprioritaskan masalah akhirat daripada urusan dunia. Jika demikian yang dilakukan, maka cinta yang semi akan abadi selamanya, insyaallah!
So, jangan sampai kita dibutakan oleh mata cinta yang ruang lingkupnya seluas daun kelor yang hanya mempertimbangkan kepentingan selera. Kita harus peka dalam menentukan pilihan bibit cinta yang berkualitas, karena pasangan kita itu tidak hanya untuk dijadikan teman di dunia. Di akhirat nanti kita bisa bersama pasangan kita. Endingnya sekarang, hanya ada dua pilihan yang harus diambil, kita membutakan cinta dengan cara seperti penjelasan di muka, atau malah dibutakan oleh cinta yang memang buta. Selamat menentukan pilihan!




[1] Muhammad bin Abî Bakar Ayyûb az-Za’î, Raudlatul Muhibbîn wa Nazhatul Musytâqqîn, Hal: 66, Maktabah Syamilah.

Rabu, 23 November 2016

Belajar Sederhana dari Fatimah, Istri Khalifah Umar




Ketika mendengar suaminya dibai’at menjadi khalifah baru, Fatimah sangat terkejut. Namun ia lebih terkejut mendengar kabar bahwa suaminya menolak semua fasilitas istana. Umar memilih menunggangi keledai yang dipakai sehari-hari, membatalkan acara pelantikan yang akan diadakan besar-besaran.
Fatimah heran dan tidak percaya mendengar berita tersebut karena ia sangat menganal karakter suaminya yang sangat identik dengan kemewahan hidup, mengapa secara tiba-tiba berpaling dari kemegahan padahal tampuk kekuasaan kaum muslimin baru saja dianugerahkan kepadanya?
Keterkejutannya semakin bertambah ketika melihat suaminya pulang dari Damaskus, tempat ia dilantik sebagai khalifah. Suaminya terlihat lebih tua tiga tahun dari sebelumnya. Wajahnya terlihat sangat letih, tubuhnya gemetaran dan layu karena menanggung bean yang teramat berat.
Dengan suara lirih Umar bin Abdul Aziz berkata dengan lembut dan penuh kasih sayang kepada sang istri tercinta, “Fatimah, istriku.... Bukankah engkau telah tau apa yang menimpaku? Bebabn yang teramat dipikulkan dipundakku, mejadi nahkoda yang dipenuhi, ditumpangi umat Muhammad SAW. Tugas ini menyita waktuku hingga hakku terhadapmu akan terabaikan. Aku khawatir kelak engkau akan meninggalakanku apabila aku menjalani hidupku yang baru, padahal aku tak ingin berpisah denganmu hingga ajal menjemputku.”
“Lalu apa yang hendak kau lakukan sekarang?” Tanya Fatimah.
“Fatimah engkau tau bukan, bahwa semua harta dan fasilitas yang ada di tangan kita berasal dari harta umat Islam. Aku ingin mengembalikan harta tersebut ke baitul mal, tanpa tersisa sedikitpun kecuali sebidang tanah yang kubeli dari hasil gajiku sebagai pegawai. Di sebidang tanah itu kelak akan kubangun tempat kita berteduh dan aku hidup dari sebidang tanah tersebut. Maka jika engkau tidak sanggup dan tidak sebar terhadap rencana perjalanan hidupku yang akan penuh kekurangan dan penderitaan, maka berterus teranglah, dan sebaiknya engaku kemabali ke orang tuamu!” Jawab Umar bin Abdul Aziz.
Fatimah kembali bertanya, “Ya suamiku.... Apa yang sebanarnya membuat engkau berubah sedemikian rupa?”
“Aku memiliki jiwa yang tidak pernah puas, setiap yang kuinginkan selalu dapat kucapai, tetapi aku menginginkan sesuatu yang lebih baik lagi yang tidak ternilai apapun juga yakni surga, surga adalah impian terakhirku” jawab Umar bin Abdul Aziz lagi.
Fatimah yang notabene merupakan wanita yang terbiasa hidup mewah, dengan fasilitas yang disediakan dan pelayanan super maksimal. Itu semua karena dia merupakan satu-satunya anak perempuan dari lima bersaudara putra khalifah Abdul Malik bin Marwan. Layaknya purti raja, Fatimah pun mendapatkan segalanya. Hidup dengan kasih sayang dan dimanja-manja oleh orang tua dan saudara-saudarany merupakan kebiasaan Fatimah. Kebahagiaannya menjadi sempurna dipersunting oleh seorang lelaki yang terbaik pada zamannya, dari keluarga terhormat bernama Umar bin Abdul Aziz, yang hidup dengan keglamoran dan kemewahan. Meskipun demikian dia merupakan sosok yang religius dan amanah.
Akan tetapi, Fatimah tidak menunjukkan kekesalan dan keputusasaan. Justru dengan suara tegar, mantap ia menegaskan, “Suamiku.... Lakukanlah yang menjadi keinginanmu dan aku setia di sisimu baik kala susah atau senang hingga maut memisahkan kita.”

Fatimah yang agung itu menjadi pendukung pertama perubahan yang akan dilakukan oleh suaminya, yakni gerakan kesederhanaan seorang pemimpin dala kehidupan, demi bakti dan keridhaan sang suami yang tercinta. Ia rela meninggalkan kemewahan hidup yang selama ini dinikmatinya, semua dilakukan dengan penuh kesadaran, keikhlasan dan keimanan yang kuat.
Di rumahnya yang baru, Fatimah hidup dengan penuh kesederhanaan. Makanan yang disantap, pakaian yang dikenakan tanpa ada kelezatan dan kemewahan. Semuanyatidak jauh dari rakyat biasa padahal status yang disandang adalah sebagai ratu dan raja seluruh umat Islam saat itu.
Begitu sederhananya kehidupan yang mereka terapkan, sehingga orang yang belum mengenal tidak menyangka bahwa mereka adalah pasangan penguasa umat Islam kala itu. Diceritakan, suatu hari datanglah seorang wanita dari Mesir untuk menemui khalifah di rumahnya. Sesampai di rumah yang ditunjukkan, ia melihat seorang wanita cantik dengan pakaian yang sederhana sedang memperhatikan seseorang yang memperbaiki pagar rumah yang dalam kondisi rusak.
Setelah berkenalan si wanita Mesir baru sadar bahwa wanita tersebut adalah Fatimah, istri sang Amirul Mukminin Umar bin Abdul Aziz. Tamu itupun menanyakan suatu hal, “Ya sayyidati.... Mengapa engkau tidak menutup auratmu dari orang yang sedang memperbaiki rumah engkau?”
Seraya tersenyum Fatimah menjawab, “Dia adalah Amirul Mukminin Umar bin Abdul Aziz yang sedang engkau cari.”

Subhanallah, kesederhanaan yang benar-benar sulit ditemukan zaman ini. Semoga saja, para muslimah bisa meneladani kesederhanaan Fatimah. Amiiiin

Selasa, 15 November 2016

Bangga Menjadi Muslimah Era Modern


Penyetaraan antara kaum laki-laki dan perempuan dalam Islam adalah ungkapan yang tak ditolak kebenarannya. Sebab Islam-lah yang memusnahkan adagium Romawi kuno dan bangsa lain yang sejalan dengan mereka akan sebuah pengkerdilan terhadap kaum hawa.
Hanya saja, dalam memprioritaskan agama terhadap kaum yang secara kasat mata ada perbedaan ini juga mengharuskan berbedanya cara yang diterapkan, demi menjaga konsistensi, demi keamanan mereka sendiri, atupun demi kehormatan yang mereka punya. Kata pepatah “Beda rumah tentu beda cara.”
Berikut oretan-oretan kecil yang mungkin perlu untuk dibaca kaum muslim, demi menancapkan ruhiyah Islam dalam jiwa anak perempuan atau kaum wanita. Bahwa   muslimah sejati adalah pemikat cinta manusia, atau sang penciptanya. Bukankah hal kecil itu terkadang sangat berarti, seperti kata Octavio Paz (seorang esais asal Meksiko): “Kecil itu indah.”
Inner Beauty
Wanita yang hatinya cantik adalh muslimah yang selalu menjaga shalat lima waktu, khustu’, serta tepat waktunya. Sehingga tidak ada suatu apapun yang emnyibukkannya dari shlat itu. Tak ada satupun yang melalaikannya dari beribadah kepada Allah SWT, sehingga nampah darinya buah dari shalat yang ia lakukan. Sebab shalat itu mencegah perbuatan kejia dan munkar. Jelas apa yang disabdakan oleh Rasulullah SAW: “Wanita dinikahi karena empat perkara; karena kecantikannya, karena hartanya, karena keturnannya dan karena agamanya. Sebaik-baiknya wanita yang dipilih adalah karena agamanya.”(HR. Bukhari).
Salalu Berhijab
Tentu saja, wanita berhijab memiliki kesan tersendiri bagi kaum laki-laki terutama bagi penulis hehe J, daripada wanita wanita yang hobi mengumbar aurat. Hijab adalh simbol dari wanita yang taat beragama dan menunjukkan perhatiyannya kepada harga diri yang memang dijunjung tinggi dalam Islam.
Hijab merupakan satu upaya bagi kaum wanita untuk menjaga diri dari hal negatif yang mungkin terjadi sebelum ia mendapat pendamping. Dengan berhijab, perempuan secara tidak langsung memberi pilihan bagi kaum laki-laki untuk mengenali perempuan yang  mengandalkan Inner beauty daripada kecantikan fisik.
Menjaga Sikap
Konon, ada tiga sifat yang baik dimiliki setiap kaum wanita, namun tidak baik dimiliki kaum lelaki; yaitu sombong, penakut dan kikir. Tentu tiga sifat ini tidak bisa dipahami dengan sebebas-bebasnya. Maksud “sombong” di sini adalah muslimah seharusnya tidak mudah menjalin hubungan dengan lelaki lain, jika belum ada legalitas dari agama. Adapun yang dimaksud “takut” adalah rasa takut untuk melakukan hal negatif yang menyababkan dirinya tergelincir di lembah kemaksiatan. Misalnya, perempuan merasa takut keluar rumah jika tidak ditemani wali atau mahramnya.
Sedangkan yang dimaksud “kikir” adalah muslimah tidak boleh terlalu royal menggunakan harta pribadinya, meski kadang sebagian wanita cenderung ‘ugal-ugalan’ dalam belanja atau memilih makanan untuk dirinya. Nah, jika ada muslimah  yang ‘kikir’ pada dirinya sendiri terhadap hal yang tidak terlalu penting, maka hal itu sangatlah baik dan mungkin sulit untuk ditemukan saat ini.
Taat pada Kedua Orang Tua
Lelaki mana yang tidak ingin mempunyai seorang pendamping (istri) yang setia dan taat beragama? Nah, salah satu indikasi wania yang taat dan setia terhadap suaminya adalah taat terhadap kedua orang tuanya. Sangat menghawatirkan sekali jika seorang lelaki memiliki pendamping muslimah yang tidak taat terhadap kedua orang tuanya.
Logikanya sederhana, jika kedua orang tuanya saja–yang notabene memiliki jasa besar yang tak terbayangkan dan terbayarkan- tidak ditaati dan bahkan dikhianati, maka bukti  ketaatan wanita itu kepada suaminya kelak masih menimbulkan tanda tanya besar.
Tidak Lebay
Rasa cemburu adalah hal fitrah yang dimiliki oleh setiap umat manusia, baik laki-laki atau wanita. Namun, bagi wanita yang cenderung memiliki rasa cemburu lebih besar dari kaum laki-laki, sebaiknya menyimpan rasa cemburu dalam hati dan mengungkapkannya di waktu yang tepat. Sebab, jika rasa cemburu diungkapkan dengan cara membabi-buta, maka akan sangat beresiko bagi keharmonisan sebuah hubungan. Muslimah dengan sikap tenang alias tidak lebai dan mampu meredakan suasana adalah anugerah tak terbayangkan bagi setiap laki-laki yang mengidamkannya. Sebaliknya, wanita yang pesikologisnya cenderung tidak tenang alias suka kalap, adalah hadiah terburuk bagi setiap laki-laki dalam keberlangsungan rumah tangganya kelak.
Terakhir, sangat baik kiranya direnungkan sabda Rasulullah SAW dalam narasi hadits berikut ini (Artinya) : “Rasulullah SAW pernah berkata kepada para sahabatnya, “Maukah  kalian jika aku tunjukkan wanita-wanita (istri) kalian yang akan menghuni surga?” para sahabat menjawab, “Ia wahai Rasulullah SAW.” Lalu beliau bersabda, “Ialah wanita yang subur (memiliki banyak anak) dan amat penyayang (kepada suami). Ketika marah pada suaminya atau merasa didzalimi atau suaminya marah, maka ia berkata: ‘Inilah tanganku berada digenggaman tanganmu, aku tidak akan memejamkan mata hingga engkau ridla (kepadaku)’.”(HR. Imam ath-Thabrani)

Saya menulis ini buka karena saya seorang lelaki, akan tetapi karena saya seorang laki-laki yang mengidamkan wanita dengan karakter positif di atas. Dan saya yakin, bahwa setiap lelaki mampunyai pikiran seperti itu.

Selasa, 01 November 2016

Kulit Hitam Wanita Penggoda




Dikisahkan seorang ulama terkenal bernama Muhammad bin ‘Utsman asy-Syafi’i yang lebih dikenal dengan sebutan Qadi Abu Zar’ah. Beliau menjabat sebagai hakim di Mesir, kemudian di Damaskus. Nama besarnya membuat seorang wanita nakal tertarik untuk menggodanya.

Suatu ketika wanita cantik dan berkulit putih mulus tersebut berhasil bertemu dengan Sang Qadi di jalan, dan membujuknya agar bersedia ikut ke rumah wanita tersebut dengan suatu alasan ada keperluan mendesak. Qadi Abu Zar’ah pun bersedia mengikuti kemauan wanita tersebut dan masuk ke rumahnya. Namun apa yang terjadi, di dalam rumah yang sepi itu, wanita nakal tersebut melancarkan akal bulusnya. Ia menggoda dan memaksa Sang Qadi untuk melakukan suatu perbuatan lacur.

Namun Sang Qadi tetap teguh pendirian menjaga imannya. Karena terus didesak, akhirnya Sang Qadi terlanjur berdo’a, “Semoga Allah SWT menghitamkan kulit wanita ini.” Kontan saja dengan do’a sang ulama besar tersebut kulit wanita cantik yang tadinya menggoda putih mulus menjadi hitam pekat seketika. 

Sumber : Al-Maqshadul Asna fi Syarhi Asma'il-Husna hal-164.

Minggu, 30 Oktober 2016

Keputihan dan Hukumnya


Keputihan atau yang disebut dengan ruthubatul-farji  adalah lendir normal pada tiap perempuan dan dapat pula karena infeksi, maka bila normal hukumnya diperinci :
  •          Lendir atau kelembaban yang keluar dari organ farji (kemaluan) yang wajib di basuh ketika istinja' atau mandi junub (organ farji yang tampak ketika wanita duduk) maka hukumnya suci. Dan keputihan semacam ini tidak membatalkan wudlu’.
  •          Bila keluar dari balik farji (organ farji yang tidak tersentuh dzakar orang yang menjima’) maka hukumnya najis karena tergolong keluar dari dalam (jauf). Dan keputihan semacam ini dapat membatalkan wudlu’.
  •          Bila keluar dari organ farji yang tidak wajib di basuh namun dapat terjangkau dzakar mujami' (orang yang menjima’) maka hukumnya suci menurut qoul ashoh. Permasalahan ini juga tidak membatalkan wudlu’.

إعانة الطالبين ج 1 ص 106

بغية المسترشدين في تلخيص فتاوى بعض الأئمة من العلماء المتأخرين – ( ص٦ ١٠)


Sabtu, 29 Oktober 2016

Wanita-wanita yang dirindukan surga


“Cukuplah wanita-wanita(berikut) ini sebagai panutan kalian: Maryam binti ‘Imran, Khadijah binti Khuwailid, Fatimah binti Muhammad, dan Asiyah binti Muzahim.”
 (HR Imam Ahmad dan Imam at-Tirmidzi)
Adakah di antara para wanita yang tidak ingin dirindukan surga?
Semua wanita pasti ingin dirindukan oleh surga. Mereka yang dirindu surga ialah yang taat kepada tuhannya, patuh pada suaminya, berbuata baik di lingkungannya dan aktifitas-aktifitas baik lainnya. Munngkin kita haru sberkaca pada para wanita terbaik berikut ini.
Khadijah binti Khuwailid
Beliau adalah wanita mulia istri rasulullah SAW atau yang di kenal dengan Ummul-mu’minin dan beliau adalah istri pertama rasulullah SAW. Walaupun beliau seorang janda, tetapi gelar at-Thahirah disematkan padanya, lantaran kesucian akhlaqnya. Ia adalah wanita pertama yang percaya Islam dan mendukung dakwah rasulullah SAW, dengan cara memberikan semua hartanya di jalan Allah SWT. Darinya juga rasulullah SAW dikaruniai 6 orang keturunan.
Sebagai wanita cantik dan kaya, tidaklah heran jika banyak pria kaya yang ingin melamar beliau. Para pelamar tersebut adalah orang-orang yang berasal dari keluarga bangsawan yang bersedia membayar mas kawin yang yang diinginkan beliau. Tetapi beliau menolak lamaran mereka dengan halus.
Maryam binti ‘Imran
Beliaulah wanita mulia yang diberi karunia kehamilan tanpa tersentuh oleh laki-laki. Ia adalh orang yang tidak putus asa mengharap karunia Allah SWT. Keimanannya kepada Allah sangatlah tinggi. ‘iImramn dan Hanna sebagai orang tua beliau, termasuk bagian dari orang-orang yang terkenal track record kesalehan dan kebaikannya. Dari sinilah terlihat ‘gen’ orang tua berpengaruh lengsung terhadap pembentukan karakter anaknya.
Maryam kecil tumbuh kembang di lingkungan sangat kondusif. Sejak beliau kecil, Nabi Zaklariya AS menempatkan Sayyidah mMaryam di lokasi khusus di mihrab Baitul Maqdis. Sebuah lingkungan yang sangat ideal untuk mencetajk generasi muslimah yang super shalihahdan dekat dengan Allah SWT. Bahkan, Sayyidah Maryam adalah sosok yang tidak pernah absen qiyamul-lail dan memiliki komotmen puasa 2 hari berpuasa, 1 hari berbuka.
Asiyah binti Muzahim 
Beliau adalah karakter wanita yang teguh pada agama Allah SWT,meski suaminya tak sepaham dengannya. Keteguhan iman beliau bahkan membuat suaminya(Fir’aun) murka, hingga Fir’aun bermaksud membunuh istrinya itu. Sayyidah Asiyah merupakan contoh wanita yang begitu sabar menghadapi keburukan dan kedzaliman suaminya.
Mesk beliau terus mendapat perlakuan yang tidak baik oleh suaminya, tetap sajaSayyidah Asiyah berusaha sabar dan tabah menghadapi cobaan derita tersebut. Suatu ketika Fir’aun dan bala tentarany datang untuk membunuh Sayyidah Asiah, akantetapi Allah SWT menyelamatkannya dengan cara mencabuat Sayyidah Asiah terlebih dahulu.  
Fatimah binti Muhammad SAW
Putri Rasulullah SAW sekaligus itri dari sayyidina ‘Ali bin Abi Thalib. Wanita yang tetap kuat menjalani hidup walaupun dengan cara yang amat sederhana. Meski beliau putri orang nomer 1 di dunia, akan tetapi beliau tidak pernah menuntut kemewahan hidup kepada sang ayah. Sayyida Fatimah hidup begitu mengagumkan, karena mengajarkan kepada kita tentang bakti seorang anak terhadap orang tua.
Bahkan, dalam urusan memilih jodoh, ia sangat patuh pada pilihan ayahandanya, meskpun orang yang dijodohkan dengan beliau bukanlah orang yang bergelimangan harta, yaitu Sayyidina ‘Ali bin Abi Thalib. Baginya, dalam memilih pasangan, kekayaan harta bukanlah tolak ukur, melainkan hanya keimanan dan ketakwaan orang tersebut.
Bukti rasa sayang beliau terhadap ayahandanya adalah ketika Rasulullah SAW dilempari darah dan kotoran unta oleh Uthbah bin Abi Mu’aith saat sedang sujud di depan Ka’bah. Mendengar bahwa baginda Rasul di perlakukan sedemikian dan tau bahwa ayahnya tidak bersalah. Sayyidah Fatimah menghampirinya dan dengan tegar beliau membersihkan kotoran hewan dari kepala ayahnya.  
Akantetapi keutamaan Fatimah bukanlah hanya karena beliau adalah putri dari Rasulullah SAW ketegaran hati semata,  akan tetapi keutamaan dan kemuliaan beliau memang ditunjang beberapa hal penting seperti keutamaan Akhlaq yang mulia, ilmu pengetahuan yang tinggi, kefasihan yang mengungguli kaum pria sekalipun, kesabaran, ketabahan, kesederhanaan, kezuhudan dan lainya.
***
Itulah pribadi mereka, para calon pemimpin wanita surga. Mereka merupakan contoh dan teladan yang bisa dijadikan standarisasi wanita shalihah yang ingin dirindu surga. Jika karakter mereka yang positif sudah jelas, maka sudah waktunya anda untuk mencoba meniru mereka. teruslah tingkatkan keimanan dan perbanyak amal kebaikan. Semoga anda, sebagai komunitas muslimah msa kini, dipertemukan dalam barisan para penghulu wanita di surga-Nya.

Amiiin